Tujuan kami pagi ini adalah Batu Caves, yang merupakan tempat ibadah umat Hindu di Malaysia. Terletak di distrik Gombak, Selangor, 13-15 km utara Kuala Lumpur, tempat ibadah ibadah yang setiap tahun sekali (biasanya di Bulan Februari) diadakan Festival Thaipusam ini merupakan salah satu obyek wisata yang sering dikunjungi turis lokal maupun asing.
With KTM Komuter to Batu Caves
Suasana perjalanan ke Batu Caves di KTM Komuter
Namun ternyata sarana transportasi di Kuala Lumpur baru-baru saja berkembang dengan teknologi yang cukup baru. Kami sempat bertemu keluarga (orang tua dengan 3 anak) asli Malaysia, yang sudah 5 tahun tinggal di Amerika. Dan ternyata mereka sama sekali buta dengan peta transportasi di KL. Menurut mereka, dalam 5 tahun, pembangunan sarana transportasi umumnya sangat pesat. Mereka takjub dengan banyaknya pilihan moda transportasi yang dapat digunakan. Namun ini juga sekaligus menimbulkan rasa ragu dan takut salah jurusan dalam menaikinya :) Untunglah, berbekal peta dari Christina, kami, yang juga sedang menuju Batu Caves, berhasil meyakinkan bahwa mereka tidak salah arah. Saat melewati Stasiun Kuala Lumpur (Old Station), kami menunjukkan bahwa kereta benar berada di lajur yang bertuliskan 'Batu Caves". Hmmm… Ada juga ya, turis Indonesia di malah nunjukin rute kereta api di Kuala Lumpur pada penduduk asli Kuala Lumpur. Bangga gak tuh :D hahaha…...
![]() |
| KTM Komuter pagi itu |
Sekitar 2 meter dari situ, di hadapan kita terdapat semacam pendapa yang di atapnya terdapat 2 buah stupa berwarna keemasan. Sepertinya pendapa ini biasa digunakan untuk upacara-upacara ibadah, termasuk juga untuk pernikahan. Saat kami datang, ada yang baru selesai melangsungkan pernikahan. Upacara sepertinya diselenggarakan di pendapa yang saya sebutkan di atas, kemudian pestanya (yang sepertinya hanya mengundang keluarga besar mempelai) diadakan di tenda besar yang didirikan di seberang pendapa.
Ada yang pemandangan lucu di pesta pernikahan itu. Pesta tersebut bagi saya lebih tepat disebut piknik keluarga. Pertama, karena tenda yang digunakan lebih menyerupai tenda yang sering digunakan di pameran atau bazaar. Dan kedua, karena meja prasmanan untuk para tamu undangan (yang lebih disebut keluarga besar), justru penuh dengan panci masakan, kemudian termos-termos minuman dan mereka semua makan menggunakan piring-gelas dan sendok-garpu dispossable alias plastik sekali pakai. Namun jika dipikir-pikir, mungkin mereka hanya lebih mengedepankan aspek kepraktisan saja. Bersih, cepat dan tidak perlu repot mencuci piring setelah pesta. Bahkan jika dilihat dari perabotannya, makanan tersebut bukan berasal dari 'catering', melainkan dari keluarga sendiri. Saat kami datang, sebagian dari mereka masih asyik makan dan ngobrol dalam ‘tenda piknik warna-warni’, namun sebagian lagi, mungkin sudah selesai makan, justru sibuk berfoto kesana-kemari.
Melewati pendapa upacara dan ‘tenda piknik’ tersebut, sampailah pada plataran utama obyek wisata Batu Caves. Dan di depan kami, menjulang jauh lebih tinggi dari patung Hanoman sebelumnya, berlatar belakang tebing batu, patung Murugan berwarna keemasan berdiri tegak dengan anggunnya; bersebelahan dengan deretan 272 anak tangga menuju gua persembahan. Menurut informasi, pada Perayaan Thaipusam, umat Hindu (umumnya Bangsa Tamil) dari berbagai penjuru dunia, Malaysia khususnya, berkumpul di sini untuk menghormati Dewa Murugan atau Dewa Subramaniam yang merupakan dewa perang dan pelindung Kaum Tamil. Mereka juga sekaligus menunaikan nadzar kepada Dewa Murugan sebagai bentuk rasa syukur karena telah mengabulkan hajat /keinginannya. Untuk naik hingga ke kuil utama juga tidak sembarang waktu. Karena ada waktu-waktu khusus kuil tertutup untuk umum, kecuali bagi mereka yang akan beribadah.



