Sunday, 25 September 2016

liburan ke batu caves


Tujuan kami pagi ini adalah Batu Caves, yang merupakan tempat ibadah umat Hindu di Malaysia. Terletak di distrik Gombak, Selangor, 13-15 km utara Kuala Lumpur, tempat ibadah ibadah yang setiap tahun sekali (biasanya di Bulan Februari) diadakan Festival Thaipusam ini merupakan salah satu obyek wisata yang sering dikunjungi turis lokal  maupun asing.

With KTM Komuter to Batu Caves KTM train
Suasana perjalanan ke Batu Caves di KTM Komuter

Dari Sarang Galloway, kami berjalan ke Stasiun Hang Tuah untuk naik monorail ke KL Sentral. Harga token cukup 2,80 RM seorang. Dari sana kemudian nyambung pakai KTM Komuter menuju ke Batu Caves. Dari KL Sentral sampai Batu Caves juga cukup 2 RM saja. Bagi saya, transportasi massa ini bentuknya seperti monorail namun untuk kelas ekonominya; sama bersih dan dinginnya, tapi lebih sederhana dan sedikit lebih 'buram' dibanding monorail :D KTM ini banyak digunakan oleh para penglaju dari daerah luar kota untuk menuju KL.
Namun ternyata sarana transportasi di Kuala Lumpur baru-baru saja berkembang dengan teknologi yang cukup baru. Kami sempat bertemu keluarga (orang tua dengan 3 anak) asli Malaysia, yang sudah 5 tahun tinggal di Amerika. Dan ternyata mereka sama sekali buta dengan peta transportasi di KL. Menurut mereka, dalam 5 tahun, pembangunan sarana transportasi umumnya sangat pesat. Mereka takjub dengan banyaknya pilihan moda transportasi yang dapat digunakan. Namun ini juga sekaligus menimbulkan rasa ragu dan takut salah jurusan dalam menaikinya :) Untunglah, berbekal peta dari Christina, kami, yang juga sedang menuju Batu Caves, berhasil meyakinkan bahwa mereka tidak salah arah. Saat melewati Stasiun Kuala Lumpur (Old Station), kami menunjukkan bahwa kereta benar berada di lajur yang bertuliskan 'Batu Caves". Hmmm… Ada juga ya, turis Indonesia di malah nunjukin rute kereta api di Kuala Lumpur pada penduduk asli Kuala Lumpur. Bangga gak tuh :D hahaha…...
KTM Komuter pagi itu
Perjalanan menuju Batu Caves memakan waktu cukup lama, sekitar 40-50 menit. Dari KL Sentral, kita harus melewati 7 stasiun terlebih dahulu baru sampai di Batu Caves. Namun ini sepadan dengan keindahan yang kita temukan setelah itu. Keluar dari stasiun Batu Caves, kita akan langsung melihat tebing batu tinggi berwarna abu-abu kehitaman dimana puncaknya tertutup lumut dan rimbunnya pepohonan. Kita dapat memasuki lokasi wisata Batu Caves dari pintu samping yang terletak persis di depan pintu stasiun Batu Caves. Pintu ini lumayan sepi dan hanya sedikit terlihat penjual suvenir, sehingga kita lebih tenang memasuki lokasi wisata ini. Dan untuk sekedar masuk ke lokasi wisata Batu Caves, kami tidak dipungut bayaran.
Saat memasuki lokasi wisata Batu Caves, jika kita menoleh ke arah kiri belakang, akan langsung terlihat patung besar (+ 15m) Hanoman berwarna hijau (kera mulia, ajudan Dewa Rama, di Jawa biasanya digambarkan berwarna putih) dan kuil pemujaan khusus untuknya, terletak dibelakangnya.




 Sekitar 2 meter dari situ, di hadapan kita terdapat semacam pendapa yang di atapnya terdapat 2 buah stupa berwarna keemasan. Sepertinya pendapa ini biasa digunakan untuk upacara-upacara ibadah, termasuk juga untuk pernikahan. Saat kami datang, ada yang baru selesai melangsungkan pernikahan. Upacara sepertinya diselenggarakan di pendapa yang saya sebutkan di atas, kemudian pestanya (yang sepertinya hanya mengundang keluarga besar mempelai) diadakan di tenda besar yang didirikan di seberang pendapa.
Ada yang pemandangan lucu di pesta pernikahan itu. Pesta tersebut bagi saya lebih tepat disebut piknik keluarga. Pertama, karena tenda yang digunakan lebih menyerupai tenda yang sering digunakan di pameran atau bazaar. Dan kedua, karena meja prasmanan untuk para tamu undangan (yang lebih disebut keluarga besar), justru penuh dengan panci masakan, kemudian termos-termos minuman dan mereka semua makan menggunakan piring-gelas dan sendok-garpu dispossable alias plastik sekali pakai. Namun jika dipikir-pikir, mungkin mereka hanya lebih mengedepankan aspek kepraktisan saja. Bersih, cepat dan tidak perlu repot mencuci piring setelah pesta. Bahkan jika dilihat dari perabotannya, makanan tersebut bukan berasal dari 'catering', melainkan dari keluarga sendiri. Saat kami datang, sebagian dari mereka masih asyik makan dan ngobrol dalam ‘tenda piknik warna-warni’, namun sebagian lagi, mungkin sudah selesai makan, justru sibuk berfoto kesana-kemari.
Melewati pendapa upacara dan ‘tenda piknik’ tersebut, sampailah pada plataran utama obyek wisata Batu Caves. Dan di depan kami, menjulang jauh lebih tinggi dari patung Hanoman sebelumnya, berlatar belakang tebing batu, patung Murugan berwarna keemasan berdiri tegak dengan anggunnya; bersebelahan dengan deretan 272 anak tangga menuju gua persembahan. Menurut informasi, pada Perayaan  Thaipusam, umat Hindu (umumnya Bangsa Tamil) dari berbagai penjuru dunia, Malaysia khususnya, berkumpul di sini untuk menghormati Dewa Murugan atau Dewa Subramaniam yang merupakan dewa perang dan pelindung Kaum Tamil. Mereka juga sekaligus menunaikan nadzar kepada Dewa Murugan sebagai bentuk rasa syukur karena telah mengabulkan hajat /keinginannya. Untuk naik hingga ke kuil utama juga tidak sembarang waktu. Karena ada waktu-waktu khusus kuil tertutup untuk umum, kecuali bagi mereka yang akan beribadah.

Stasiun Batu Cave saat ini masih merupakan ujung lintasan Komuter Line arah Batu Cave. Setelah turun dari stasiun, kami berjalan ke gerbang Batu Cave dan saya pun mencari loket untuk masuk kesana. Ternyata obyek itu digratiskan untuk pengunjung. Beberapa patung raksasa menyambut saya dari kejauhan, satu berwarna hijau yang mirip dengan dewa kera Hanuman dan satu lagi Patung Dewa Murugan berwarna kuning emas menyolok dengan tinggi mencapai 42 meter.Pengunjung disini harus mendaki 272 anak tangga untuk sampai ke mulut gua yang konon dulu tempat untuk bertapa. Tempat ini dibangun untuk menghormati dewa Murugan dan tempat berlangsungnya festival Thaipusam di Malaysia.
Agak kepayahan juga naik dengan membawa beban seberat itu. Untung diatas banyak penjual minuman dan eskrim. Cuma hati-hati dengan monyet yang berkeliaran dan sewaktu-waktu dapat mengambil barang yang kita bawa.Di atas, sekitar 100 meter dari permukaan tanah, kita akan menjumpai beberapa chamber dengan yang terbesar bernama gua kuil/gua katedral. Pada tahun 1890 seorang dari India bernama K. Thambosammi Pillai mendirikan kuil bernama kuil sri Mahariamman dan membangun juga arca Sri Subramania Swamy yang sekarang dikenal sebagai Kuil GuaSetelah menapaki bagian pertama dari ruangan setelah mulut gua, kita harus mendaki lagi sebanyak sekitar 30 anak tangga untuk mencapai bagian kedua dari gua di batu cave. Sebuah kuil yang berukuran terbesar berada di tengah-tengahnya dengan beberapa kuil lain lagi menempel di dinding-dinding gua.Setelah cukup menikmati pemandangan dari atas Batu Cave, karena matahari semakin memanas, maka sayapun kembali ke stasiun komuter-line di sebelah kanan tangga turun, membeli tiket pulang seharga 2 MYR untuk menuju stasiun Kuala Lumpur.